33a4f695848b5ff40a63284b7d4f2a9a Elekronik08

Cari Blog Ini

Kamis, 03 November 2022

Pengertian Sensor Cahaya dan Jenis Jenis Sensor Cahaya

 

Pengertian Sensor Cahaya

 

Sensor cahaya adalah sebuah alat atau komponen yang berfungsi untuk mengubah energi  cahaya baik cahaya tampak atau infrared menjadi energi listrik.

Alat ini mampu melakukan pendeteksian keberadaan cahaya dan kemudian mengolahnya menjadi sinyal listrik untuk digunakan dalam sebuah rangkaian yang menggunakan cahaya sebagai pemicunya.

Cara kerja dari sensor cahaya ini adalah mengubah energi dari cahaya (Foton) menjadi listrik (Electron), dimana tergantung besar kecilnya intensitas cahaya yang diterima oleh penampang sensor itu sendiri. Biasanya satu foton dapat membangkitkan satu elektron.

 

Jenis Jenis Sensor Cahaya

Berdasarkan Output

Ditinjau dari perubahan outputnya, sensor cahaya dapat dibedakan menjadi 2 jenis utama, yakni :

      • Sensor Cahaya Fotovoltaik
      • Sensor Cahaya Fotokonduktif

Berdasarkan Input

Sedangkan bila ditinjau dari jenis  cahaya yang diterima, maka sensor cahaya dapat dibedakan menjadi 2 tipe utama juga diantaranya adalah :

      • Sensor Cahaya Inframerah
      • Sensor Cahaya Ultraviolet

1. Sensor Cahaya Fotovoltaik


Tipe Fotovoltaik merupakan sensor cahaya yang menghasilkan perubahan tegangan pada output sensornya  apabila sensor menerima intensitas cahaya. Salah satu sensor cahaya tipe foltovoltaik yang paling banyak digunakan adalah solar cell atau sel surya.

Solar sel merupakan alat sensor sinar yang mengubah energi cahaya matahari secara langsung menjadi energi listrik. Cara kerja dari sel surya ini yaitu pada sambungan silikon PN dengan lapisan P yang transparan sehingga cahaya bisa masuk.


Ketika ada cahaya yang masuk ke penampang sensor, maka elektron akan bergerak dari P ke N  dan mampu menghasilkan tegangan DC kecil yaitu sekitar 0,5 Volt per sel pada sinar matahari penuh.

Fungsi sensor cahaya jenis ini biasanya digunakan pada rangkaian untuk pengisi baterai otomatis dengan hanya mengandalkan sinar matahari dan juga digunakan pada rangkaian penerangan jalan yang tidak dapat dialiri listrik PLN.

2. Sensor Cahaya  Fotokonduktif

 

Tipe fotokonduktif ini merupakan alat sensor sinar yang mampu manghasilkan perubahan konduktansi atau resistansi pada kaki terminal outputnya sesuai dengan kuat lemah cahaya yang diterima oleh sensor.

Komponen sensor jenis ini dapat dibagi menjadi beberapa tipe diantaranya adalah :

 

 a. LDR / Light Dependent Resistor


LDR adalah sebuah resistor dimana memiliki nilai resistansi yang dapat berubah sesuai dengan intensitas cahaya yang masuk ke sensor. Prinsip dasar LDR adalah ketika intensitas cahaya yang diterima kuat, maka nilai resistansinya semakin kecil,  dan sebaliknya jika cahaya gelap maka nilai resistansinya juga besar.

Hal ini disebabkan oleh elektroda pada LDR yang memiliki bahan dasar Cadnium Sulfide, dimana jika terkena cahaya akan banyak elektron yang dilepaskan sehingga resistansi menjadi lebih kecil, dan ketika cahaya menjadi gelap maka elektron yang dilepasakan sangat sedikit sehingga resistansi menjadi besar sekali hingga sampai 10M Ohm.

Resistor LDR banyak digunakan pada sebuah rangkaian sensor  cahaya untuk penerangan atau lampu karena harganya yang terjangkau.

 

b. Photo Transistor


Photo transistor adalah sebuah transistor yang memiliki resistansi antara 2 kaki terminal kolektor dan emitor yang dihubungkan ke rangkaian. Pada transistor ini sebuah lensa pemfokus dipasang pada kaki Basis untuk dikendalikan cahaya yang masuk ke permukaan sensor foto transistor. Nilai resistansi juga ditentukan kuat lemahnya intensitas cahaya yang diterima.

Prinsip dasar photo transistor adalah semakin rendah intensitas cahaya yang masuk ke sensor, maka nilai resistansi antara kaki Emitor dan kolektor akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh bahan photo transistor yang berasal dari silikon atau semikonduktor yang cukup sensitif terhadap cahaya.

 

c. Photo Dioda


Photo dioda merupakan sebuah dioda yang menghasilkan perubahan nilai resistansi pada terminal anoda dan katoda apabila mendapat cahaya, dimana nilai resistansi ini juga ditentukan akan intensitas cahaya yang diterima.

Semakin besar intensitas cahaya yang terima oleh sensor maka nilai resistansi anoda dan katoda akan semakin rendah. Pada photo dioda nilai resistansinya rendah dan arus listrik yang dapat dialirkan satu arah saja dari kaki Anoda ke kaki katoda.

 Komponen ini banyak ditemukan pada rangkaian penghitung / counter, alat ukur cahaya dan juga sebagai sensor cahaya pada peralatan digital seperti kamera dan penggunaan industri.

 

d. Sensor Inframerah / Infrared


Sensor infrared merupakan sensor cahaya yang hanya akan merespon adanya perubahan cahaya jenis inframerah saja. Salah satu contohnya yaitu cahaya dari LED inframerah. Prinsip kerja dari sensor infrared ini adalah jika sensor menerima pancaran cahaya inframerah maka di antara kaki terminal outputnya akan terjadi perubahan resistansi.

Komponen ini sering digunakan pada televisi konvensional atau televisi LCD/LED pada rangkaian remote controlnya, sebagai sensor remote. Umumnya dikemas dalam bentuk satu chip IC kecil yang dialiri tegangan supply dan ketika chip IC mendapat cahaya inframerah dari remote maka pada outputnya akan tejadi perubahan tegangan atau sekaligus menerima data digital dari remote TV untuk kemudian diproses di IC mainboard TV.

Selain itu, sensor infrared juga banyak digunakan pada alat ukur seperti untuk mendeteksi suhu dengan menggunakan thermometer infrared.

 

e. Sensor Ultraviolet


Sensor Ultraviolet atau Sensor UV merupakan sebuah sensor cahaya yang hanya merespons adanya perubahan intensitas cahaya ultraviolet yang mengenainya. Sensor jenis ini sangat sensitif sekali terhadap keberadaan api bahkan  sekecil apapun seperti pada api rokok.

Pada dasarnya sekecil apapun api mampu memancarkan sinar ultraviolet. Sensor UV ini akan memberikan perubahan besaran listrik pada terminal outputnya ketika menerima perubahan pancaran sinar ultraviolet.

Biasanya sensor UV ini banyak digunakan pada sensor kebakaran atau juga pada robot pemadam kebakaran. Komponen sensor UV yang umum adalah UVTron yang memiliki bentuk mirip transistor tabung yang pada kakinya terdapat pin anoda dan katoda.

 

LIGUID CRYSTAL DISPLAY (LCD) 16 X 2

 

LCD (Liquid Crystal Display) 

 

LCD adalah suatu jenis media tampil yang menggunakan kristal cair sebagai penampil utama. LCD sudah digunakan diberbagai bidang misalnya alal–alat elektronik seperti televisi, kalkulator, atau pun layar komputer. Pada postingan aplikasi LCD yang dugunakan ialah LCD dot matrik dengan jumlah karakter 2 x 16. LCD sangat berfungsi sebagai penampil yang nantinya akan digunakan untuk menampilkan status kerja alat.


Fitur LCD 16 x 2

 

Adapun fitur yang disajikan dalam LCD ini adalah :

 

a. Terdiri dari 16 karakter dan 2 baris.

b. Mempunyai 192 karakter tersimpan.

c. Terdapat karakter generator terprogram.

d. Dapat dialamati dengan mode 4-bit dan 8-bit.

e. Dilengkapi dengan back light.

 

Spesifikasi Kaki LCD 16 x 2

 

Pin                        Deskripsi

1                           Ground

2                           Vcc

3                           Pengatur kontras

4                           “RS” Instruction/Register Select

5                           “R/W” Read/Write LCD Registers

6                           “EN” Enable

7-14                       Data I/O Pins

15                          Vcc

16                          Ground

 

Cara Kerja LCD Secara Umum

 

Pada aplikasi umumnya RW diberi logika rendah “0”. Bus data terdiri dari 4-bit atau 8-bit. Jika jalur data 4-bit maka yang digunakan ialah DB4 sampai dengan DB7. Sebagaimana terlihat pada table diskripsi, interface LCD merupakan sebuah parallel bus, dimana hal ini sangat memudahkan dan sangat cepat dalam pembacaan dan penulisan data dari atau ke LCD. Kode ASCII yang ditampilkan sepanjang 8-bit dikirim ke LCD secara 4-bit atau 8 bit pada satu waktu. Jika mode 4-bit yang digunakan, maka 2 nibble data dikirim untuk membuat sepenuhnya 8-bit (pertama dikirim 4-bit MSB lalu 4-bit LSB dengan pulsa clock EN setiap nibblenya). Jalur kontrol EN digunakan untuk memberitahu LCD bahwa mikrokontroller mengirimkan data ke LCD. Untuk mengirim data ke LCD program harus menset EN ke kondisi high “1” dan kemudian menset dua jalur kontrol lainnya (RS dan R/W) atau juga mengirimkan data ke jalur data bus.

Saat jalur lainnya sudah siap, EN harus diset ke “0” dan tunggu beberapa saat (tergantung pada datasheet LCD), dan set EN kembali ke high “1”. Ketika jalur RS berada dalam kondisi low “0”, data yang dikirimkan ke LCD dianggap sebagai sebuah perintah atau instruksi khusus (seperti bersihkan layar, posisi kursor dll). Ketika RS dalam kondisi high atau “1”, data yang dikirimkan adalah data ASCII yang akan ditampilkan dilayar. Misal, untuk menampilkan huruf “A” pada layar maka RS harus diset ke “1”. Jalur kontrol R/W harus berada dalam kondisi low (0) saat informasi pada data bus akan dituliskan ke LCD. Apabila R/W berada dalam kondisi high “1”, maka program akan melakukan query (pembacaan) data dari LCD. Instruksi pembacaan hanya satu, yaitu Get LCD status (membaca status LCD), lainnya merupakan instruksi penulisan. Jadi hampir setiap aplikasi yang menggunakan LCD, R/W selalu diset ke “0”. Jalur data dapat terdiri 4 atau 8 jalur (tergantung mode yang dipilih pengguna), DB0, DB1, DB2, DB3, DB4, DB5, DB6 dan DB7. Mengirim data secara parallel baik 4-bit atau 8-bit merupakan 2 mode operasi primer. Untuk membuat sebuah aplikasi interface LCD, menentukan mode operasi merupakan hal yang paling penting.

Mode 8-bit sangat baik digunakan ketika kecepatan menjadi keutamaan dalam sebuah aplikasi dan setidaknya minimal tersedia 11 pin I/O (3 pin untuk kontrol, 8 pin untuk data). Sedangkan mode 4 bit minimal hanya membutuhkan 7-bit (3 pin untuk kontrol, 4 pin untuk data). Bit RS digunakan untuk memilih apakah data atau instruksi yang akan ditransfer antara mikrokontroller dan LCD. Jika bit ini di set (RS = 1), maka byte pada posisi kursor LCD saat itu dapat dibaca atau ditulis. Jika bit ini di reset (RS = 0), merupakan instruksi yang dikirim ke LCD atau status eksekusi dari instruksi terakhir yang dibaca.


Sejarah Speaker, Cara Kerja dan Komponen Speaker, Perbedaan Speaker Aktif dan Pasif

 A. Sejarah Speaker

Speaker pertama kali dipublikasikan oleh Horace Short pada 1898. Ketika itu model speakernya masih sangat sederhana dengan komponen utama berupa kompresor udara.

Short menjual model tersebut pada Charles Parsons sebelum akhirnya dipatenkan hak kepemilikan pada 1910. Prototipe sederhana ini terus dikembangkan hingga beberapa tahun kemudian.

Perkembangan selanjutnya pada 1924, seorang Doktor bernama Walter H. Schottky menambahkan komponen loudspeaker dengan menggunakan elektromagnetik. Adapun speaker elektromagnetik pada masa itu terdiri dari bidang lilitan dan komponen energize driver. Keduanya berguna untuk menghasilkan arus listrik utama bagi loudspeaker.

Pada perkembangan selanjutnya, speaker telah dilengkapi dengan komponen yang lebih kompleks. Terdapat amplifier, penghasil arus AC, dan lain-lain. Cara kerja speaker ini sudah jauh lebih canggih daripada prototipe pertama.

Model speaker paling mutakhir sudah tidak lagi membutuhkan perangkat kelistrikan konvensional karena sudah dilengkapi dengan jaringan wireless.

B. Cara Kerja dan Komponen Speaker

Cara kerja speaker tidak dapat dipisahkan dari peranan transduser. Komponen alat satu ini bertugas sebagai pengubah daya. Pada speaker transduser berperan untuk mengubah bentuk daya listrik menjadi gelombang suara.

Selain itu, transduser juga mengubah kekuatan sinyal suatu daya, baik dikuatkan atau dilemahkan. Pada speaker, transduser ini bekerja untu memperkuat sinyal daya.

Speaker biasa maupun speaker komputer mempunyai kesamaan komponen, karena cara kerja dan fungsinya sama. Membran speaker akan menangkap gelombang sinyal elektrik yang telah dikuatkan oleh transduser, lalu diubah menjadi gelompang suara yang mampu ditangkap indera pendengaran manusia.

Berdasarkan cara kerja tersebut, berikut komponen penting yang ada dalam speaker.

1. Magnet

Komponen satu ini berfungsi untuk menghasilkan induksi pada magnet yang ada di dalam speaker, sehingga terciptalah medan magnet.

Seperti diketahui bahwa gesekan dua magnet secara induksi mampu menghasilkan aliran listrik, maka demikianlah yang terjadi pada bagian pemrosesan speaker.

2. Kumparan

Kumparan yakni bagian yang menghubungkan antara hasil induksi kepada conus. Pada dasarnya kumparan adalah serangkaian magnet yang bisa menghasilkan arus ketika sudah mengalami proses induksi.

Kumparan dan magnet ini akan saling terkait, oleh karena itu keduanya saling mengalirkan arus yang kemudian disalurkan pada conus.

3. Conus

Conus adalah komponen speaker yang mampu menghasilkan gelombang. Adapun gelombang ini dihasilkan dari pergerakan udara yang ada di sekitar komponen.

Selain itu, gelombang ini juga dihasilkan oleh pergerakan arus induksi dari kumparan. Hasil dari gelombang inilah yang kemudian dikenal sebagai bunyi atau suara.

4. Membran

Membran mempunyai peranan penting dalam menyalurkan energi selama pemrosesan di dalam speaker. Gaya induksi yang dihasilkan dari pergeseran pada komponen magnet dan kumparan diterima oleh membran. Setelah itu gaya tersebut akan diubah menjadi getaran yang outputnya berupa gelombang suara.

5. Casing

Yang tidak kalah penting adalah komponen casing. Bagian ini berfungsi melindungi komponen-komponen di dalam speaker. Bisa dikatakan jika casing ini adalah pelindung utama yang menjaga agar komponen dalam speaker bisa dalam keadaan baik.

Model casing speaker saat ini bermacam-macam dan umumnya terbuat dari bahan logam, plastik, atau composite. 

C. Perbedaan Speaker Aktif dan Pasif

Pengertian speaker aktif adalah perangkat sound system yang mempunyai komponen amplifier dan membutuhkan aliran listrik guna mengaktifkan amplifier tersebut.

Adapun speaker pasif tidak mempunyai komponen amplifier sehingga jika ingin memperkuat suara perlu menambahkan penguat suara di rangkaiannya.

Berikut perbedaan speaker aktif dan pasif yang perlu diketahui.

1. Komponen

Komponen paling utama yang membedakan antara speaker aktif dan pasif adalah amplifier. Pada speaker akfit terdapat komponen amplifier yang beroperasi dengan bantuan daya dari baterai atau aliran listrik. Sedangkan pada speaker pasif membutuhkan tambahan komponen amplifier agar bisa beroperasi.

Speaker aktif dapat bekerja secara mandiri karena komponennya telah lengkap. Berbeda dengan speaker pasif yang harus membutuhkan suplai energi tambahan agar mampu dioperasikan. Tambahan amplifier eksternal pada speaker pasif sangat dibutuhkan sehingga bisa menghasilkan pengerasan suara.

2. Cara Kerja

Pada speaker aktif, sinyal yang ditangkap dari amplifier bisa langsung diubah menjadi gelombang listrik. Namun karena dayanya bergantung pada kekuatan amplifier atau baterai di dalamnya, kemampuan speaker aktif dalam memperkeras suara dalam radius besar sangat lemah. Speaker aktif hanya bisa memperkeras sebesar kapasitas daya internal.

Berbeda dengan speaker pasif yang bisa menghasilkan pengeras gelombang suara hingga maksimal pendengaran manusia. Hal ini dikarenakan pada speaker aktif tambahan amplifiernya bisa dipasangkan dalam kapasitas berapapun, selama tegangannya masih sesuai dengan speaker.

3. Jenisnya

Jenis speaker akif yang paling mudah dikenali adalah speaker pada mini sound, speaker smartphone, speaker laptop, dan lain-lain. Speaker aktif tidak harus disambungkan dengan energi listrik eksternal ketika hendak menghasilkan suara. Dayanya berasal dari amplifier internal atau baterai yang telah diisi sebelumnya.

Adapun jenis speaker pasif bisa ditemukan pada jaringan sound system jumbo. Umumnya dipakai pada home theater, speaker bioskop, dan speaker yang dipakai pada event-event. Kebutuhan daya pada speaker pasif disupply dari energi listrik yang berasal dari eksternal, sehingga kekuatan suaranya bergantung pada besarnya listrik yang diterima.

4. Daya

Daya pada speaker aktif dihasilkan dari inbuilt amplifier atau baterai. Penghasil listrik tersebut diisi daya terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal ini memudahkan karena pengguna tidak harus menyalurkan listrik secara terus-menerus selama penggunaan speaker aktif. Sedangkan pada speaker pasif daya berasal dari sumber listrik eksternal yang harus selalu disambungkan.


Mengenal Fungsi Speaker Dan Jenis-Jenisnya

 

A. Fungsi Speaker

    Speaker merupakan sebuah perangkat keras atau hardware yang mengubah sinyal elektrik atau listrik menjadi frekuensi suara dengan jalan memberikan getaran pada komponennya yang berupa membran. Membran dalam speaker tersebut akan memberikan getaran pada udara agar terjadi gelombang audio atau suara yang akhirnya bisa ditangkap oleh telinga manusia.

    Speaker memiliki fungsi untuk mengubah gelombang elektrik atau listrik menjadi audio atau gelombang suara. Fungsi tersebut bisa berjalan normal selama komponen-komponen di dalamnya bekerja dengan baik dan sebagaimana mestinya.

B. Jenis-Jenis Speaker

 

1. Midrange

    Jenis-jenis speaker yang pertama adalah midrange. Speaker midrange ini khusus dirancang untuk menghasilkan suara dari rentang frekuensi 500 Hz – 5.000 Hz. Jenis speaker satu ini mampu menciptakan suara yang terdengar lebih jelas dan terfokus. Ukurannya sekitar 4 hingga 6 inci saja. Speaker ini banyak digunakan untuk menghasilkan suara vokal.

    Speaker midrange biasanya merupakan bagian dari speaker tipe 3 way. Namun, speaker midrange tidak bisa menghasilkan suara dengan nada tinggi. Kerja dari speaker jenis midrange hanya untuk menyempurnakan dari kedua jenis speaker yang lainnya dalam tipe 3 way.

    Speaker ini berfungsi untuk menangkap suara dengan frekuensi tinggi yang tidak bisa ditangkap oleh tweeter dan midbass. Dengan menggunakan midrange, suara vokal yang dihasilkan lebih tebal dan jelas.

2. Woofer

    Jenis-jenis speaker berikutnya adalah woofer yang juga disebut speaker bass yang merupakan istilah untuk pengeras suara yang dapat mereproduksi suara frekuensi rendah. Speaker woofer dapat menerima frekuensi antara 40 hingga 1.000 Hz ada juga yang 20 hingga 2,000 Hz. Woofer memiliki diameter yang lebih kecil, mulai dari 4 inch – 12 inch. Speaker jenis ini sering dijumpai di speaker aktif atau sound system ruangan.

    Dengan beberapa sistem pengeras suara, jangkauan yang dicakup oleh woofer memanjang hingga 3000 Hz atau bahkan 5000 Hz. Speaker tersebut disebut ‘mid-woofer’ dan biasanya ditemukan di sistem home theatre.

3. Subwoofer

    Speaker subwoofer merupakan jenis-jenis speaker dengen frekuensi suara antara 20 Hz – 200 Hz. Speaker ini merupakan jenis penghasil suara nada rendah. Ukuran subwoofer cenderung lebih besar jika dibandingkan dengan jenis speaker lain.

    Speaker ini berfungsi untuk mereproduksi dua atau tiga oktaf terendah dari pendengaran manusia yang dikenal sebagai bass atau sub-bass. Penggunaan subwoofer menambah kemampuan bass dari speaker utama.

    Speaker subwoofer biasanya dipasang pada perangkat komputer atau sound system mobil. Subwoofer menggunakan perangkat individu pengeras suara yang biasa berukuran diameter 8 hinga 21 inci.

4. Full Range

    Jenis-jenis speaker yang lainnya adalah full range. Speaker ini bekerja pada frekuensi yang sangat lebar, mulai dari 40 Hz – 2 kHz. Speaker full range mereproduksi sebanyak mungkin rentang frekuensi yang dapat didengar, dalam batasan yang ditentukan oleh kendala fisik dari desain tertentu. Speaker full range bahkan bisa mengeluarkan suara rendah dan tinggi sekaligus.

    Jenis-jenis speaker ini dapat ditemukan dalam aplikasi mulai dari pengeras suara multimedia yang murah hingga sistem esoteris yang lebih mahal. Biasanya penggunaan jenis speaker ini diterapkan pada sound system luar ruangan agar bisa menghasilkan suara yang jelas dengan jarah jauh.

5. Tweeter

    Tweeter merupakan jenis-jenis speaker terkecil yang juga dikenal sebagai speaker treble. Speaker ini dirancang untuk mereproduksi batas atas rentang frekuensi yang dapat didengar. Istilah 'tweeter' sendiri sebenarnya berasal dari kata 'tweet' yang mewakili suara nada tinggi yang dibuat oleh beberapa burung.

    Speaker tweeter mampu menghasilkan frekuensi suaranya pada kisaran 3.500 Hz – 20 kHz. Diafragma tweeter modern terbuat dari sutera, film atau kain poliester, aluminium dan paduan khusus lainnya atau bahkan titanium.

    Berbeda dengan speaker jenis subwoofer yang harus dipasangkan terlebih dulu pada box speaker khusus, tweeter bisa langsung dipasang.

Pengertian Media Proyektor LCD

 A. Pengertian Media Proyektor LCD

Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. 

1.  makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi. Istilah media ini sangat populer dalam bidang komunikasi. Proses belajar mengajar hakekatnya adalah juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut juga media pembelajaran, ada juga yang menyebut media pengajaran, media komunikasi, media pendidikan dan alat peraga. Terlepas dari sebutan tersebut, banyak ahli yang memberikan batasan tentang media pembelajaran. AECT (Assosiation of Education and Communication) misalnya, mendefinisikan bahwa media pembelajaran adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi. 

2.  Gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Sedangkan Education Association (NEA) mendefinisikan media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program intruktional. 

3. Sedangkan proyektor LCD adalah sebuah alat proyeksi yang mampu menampilkan unsur -unsur media seperti gambar, teks, video, animasi, video baik secara terpisah maupun gabungan diantara unsur-unsur media tersebut dan dapat dikoneksikan dengan perangkat elektronika lainnya. 

4. Pengertian lain dari LCD Proyektor adalah perangkat alat bantu yang sering digunakan untuk media presentasi, karena mampu menampilkan gambar dengan ukuran besar 

5. Jadi Media proyektor LCD adalah sebuah alat proyeksi yang mampu menampilkan unsur-unsur media seperti gambar, teks, video, animasi, video baik secara terpisah maupun gabungan diantara unsur-unsur media tersebut dan dapat dikoneksikan dengan perangkat elektronika lainnya yang digunakan guru untuk media presentasi yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat menolong terjadinya proses belajar pada dirinya.

B. Kelebihan dan Kekurangan Media Proyektor LCD

    Setiap media pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, adapun kelebihan proyektor LCD adalah sebagai berikut : 

1. Menghasilkan warna yang sangat baik. 

2. Intensitas cahaya tinggi. 

3. Tipe proyektor paling kuat6 

4. Pantulan proyeksi terlihat jelas pada ruangan yang terang sehingga guru dan murid tetap dapat melihat. 

5. Dapat menjangkau kelompok besar. 

6. Dapat disimpan dan digunakan berulang kali. 

7. Tembok bisa dijadikan bidang proyeksi sehingga tidak perlu repot menyiapkan layar. 

8. Mampu menampilkan unsur -unsur media seperti gambar, teks, video, animasi, film dll. 

    Kekurangan media proyektor LCD : 

1. Penggantian light bulb yang cukup mahal. 

2. Listrik pada ruangan atau lokasi penyajian harus ada. 

3. Lebih mudah panas, membutuhkan ekstra pendingin untuk menghindari gangguan pada projector akibat panas 

4. Warna menjadi kekuningan setelah 1000 jam pemakaian. 

5. Perlu keterampilan khusus dalam penggunaannya.   

6. Membutuhkan perawatan khusus. 

7. Membutuhkan media lain dalam pengoperasiannya.

Sejarah penemuan Liquid Crystal Display (LCD), Perbedaan LCD Dan Touchscreen

A. Sejarah penemuan Liquid Crystal Display (LCD)

 

    Kristal cair pertama kali ditemukan dalam kolesterol yang diekstraksi dari wortel pada tahun 1888 oleh ahli botani dan kimia Austria Friedrich Reinitzer. Pada tahun 1962, peneliti di perusahaan elektronik Radio Corporate of America (RCA) berhasil menemukan pola garis pada lapisan tipis bahan kristal cair dengan menerapkan tegangan. Efek dalam kristal cair ini kemudian disebut domain Williams. Menurut IEEE, antara tahun 1964 dan 1968, tim peneliti di New Jersey, AS, berhasil mengembangkan metode untuk mengontrol elektronika cahaya yang dipantulkan oleh kristal cair. Penelitian yang dipimpin oleh George Heilmeier adalah pendahulu dari banyak LCD di pasaran saat ini. Namun, LCD Heilmeier tidak berfungsi dengan baik dan menghabiskan daya. LCD Heilmeier kemudian digantikan oleh versi revisi menggunakan efek medan nematik terbalik dalam kristal cair yang ditemukan oleh James Fergason pada tahun 1969.

 

B. Struktur LCD

 

    Sebuah LCD (liquid crystal display) pada dasarnya terdiri dari dua bagian penting: lampu latar dan kristal cair. LCD ini tidak bisa lagi menghasilkan cahaya. LCD hanya memantulkan dan memancarkan cahaya. Oleh karena itu, kristal cair memerlukan lampu latar, yang berfungsi sebagai sumber cahaya. Lampu latar ini biasanya berwarna putih. Kristal cair atau liquid crystal sendiri adalah cairan organik yang diapit di antara dua lembar kaca dengan permukaan transparan yang konduktif. Bagian penting dari LCD (Liquid Crystal Display). 

 

    Bagian-bagian LCD atau Liquid Crystal Display diantaranya adalah sebagai berikut:

 

 

- Lapisan Terpolarisasi 1 (Polarizing Film 1)

 

 

- Elektroda Positif (Positive Electrode)

- Lapisan Kristal Cair (Liquid Cristal Layer)

- Elektroda Negatif (Negative Electrode)

- Lapisan Terpolarisasi 2 (Polarizing film 2)

- Backlight atau Cermin (Backlight or Mirror)

 

C. Jenis-jenis LCD

 

    Setelah mengetahui apa itu LCD, Anda juga perlu mengenal jenis-jenis dari LCD. jenis-jenis LCD adalah sebagai berikut:

 

 

1. Twisted Nematic (TN) - Waktu respons yang lama. Namun, tampilan Twisted Nematic memiliki rasio kontras, sudut pandang, dan kontras warna yang lebih rendah.

 

 

2. In Panel Switching Display (IPS Panel) - Rasio kontras, sudut pandang, dan kontras warna yang jauh lebih baik dibandingkan dengan TN LCD. 

 

3. Vertical Alignment Panels (panel VA) - dianggap sebagai tipe LCD kualitas menengah antara layar TN dan IPS.

 

4. Advanced Fringe Field Switching (AFFS) - Memberikan kinerja yang lebih baik daripada layar IPS dalam hal reproduksi warna.

 

D. Perbedaan LCD Dan Touchscreen

 

Touchscreen (atau digitizer) dalam bentuk fisik, Ini adalah lapisan plastik transparan yang memungkinkan Anda membaca sinyal dari sentuhan Anda.

Kemudian mengirimkan informasi itu ke unit pemrosesan. Pada dasarnya Touchscreen membaca informasi tentang gerakan jari Anda, Mulailah dengan bagian menekan. terhadap gerakan jari. informasi tentang gerakan jari-jari ini, Ini dikirim ke unit pemrosesan untuk diproses dan diubah menjadi instruksi. 

Di samping itu Layar LCD adalah panel atau komponen di dalam perangkat (seperti iPhone).

 

Postingan Populer